Terpinggirkannya umat Islam dalam pentas politik selama ini, lebih disebabkan karena umat tidak bersatu, para pemimpinnya lebih mengedepankan ego pribadi dan kelompok ketimbang kepentingan izzah Islam dan kaum Muslimin.
“SHAWU... Shawwu... “ demikian biasanya Imam Shalat di Masjid Haram mengingatkan para makmum jamaah sholat untuk merapatkan dan merapikan barisan (shaf). Sesuai sabda Nabi Saw, sesungguhnya kerapihan shaf merupakan bagian dari kesempurnaan shalat berjamaah.
Dikisahkan, suatu ketika Rasulullah saw akan mengimami shalat berjamaah. Sebelum bertakbir beliau meratakan shaf para sahabatnya sebagaimana barisan tentara. Ketika akan mulai bertakbir, tiba-tiba ada seorang makmum yang dadanya lebih maju dari yang lainnya. Melihat hal itu beliau bersabda,
"Hai hamba Allah, harus kamu ratakan barisan kamu atau Allah akan membuat hatimu saling berselisih" (HR Abu Dawud).
Selain rata, Nabi Saw juga memerintahkan para makmum untuk merapatkan barisan mereka.
"Jangan kalian biarkan ada celah renggang di tengah barisan untuk jalannya syaitan".
"Rapatkan barisan kamu, karena demi Allah, sesungguhnya aku melihat syaitan masuk ke sela-sela barisan shalat".
Shalat berjamaah merupakan cermin kesatuan umat Islam. Ketika melaksanakan shalat, visi dan misi mereka satu, yakni penghambaan total kepada Allah Swt. dan menggapai mardhotillah. Ketaatan kepada pemimpin pun tercermin dalam shalat berjamaah. Tidak peduli dari firqoh mana sang imam, komandonya tetap diikuti para makmum. Perbedaan firqoh, ormas, parpol, atau kepentingan duniawi, lebur dalam kesamaan visi dan misi beribadah kepada Allah Swt.
Begitulah semestinya umat Islam. Bersatu-pada dalam satu visi dan misi. Gambaran kerataan dan kerapatan shaf shalat mencerminkan setidaknya dua hal.
Pertama, dalam jamaah umat Islam tidak boleh ada orang yang merasa paling hebat atau unggul, sehingga ingin menonjol di antara jamaah. Nabi Saw menyebutkan, jika dalam barisan umat ada yang berdiri “lebih maju” ketimbang yang lain, itu akan menyebabkan perselisihan. Cukup satu orang saja, yakni imam (pemimpin) yang berdiri paling depan di antara jamaah, karena ia memegang komando.
Perselisihan di antara umat Islam kerap terjadi karena ada orang melangkah sendirian, meninggalkan barisan umat, untuk mengejar kepentingan pribadi. Ia mengesampingkan kepentingan jamaah umat Islam secara keseluruhan. Bahkan, ia membentuk gerbong sendiri untuk menunjukkan keunggulannya.
Kedua, dalam jamaah umat Islam tidak boleh ada celah sedikit pun yang memberi peluang masuknya setan ke celah itu. Jika terjadi gap di antara barisan umat, maka setan akan menggoda manusia untuk berselisih, lalu berpecah-belah.
Artinya, umat Islam harus terus merapatkan barisan, mengikat kuat-kuat tali ukhuwah Islamiyah, sehingga tidak ada peluang bagi musuh-musuh Allah untuk mengadu-domba dan memecah-belah kekuatan umat Islam.
PERSELISIHAN di antara umat Islam merupakan sumber kebinasaan kaum Muslimin. Dalam sebuah haditsnya, Nabi Saw pernah mengabarkan bahwa beliau memohon kepada Allah SWT agar umatnya tidak binasa karena kekurangan pangan (kelaparan yang mewabah), serta agar umatnya tidak binasa karena serangan musuh dari luar Islam. Allah SWT mengabulkan permohonan itu.
“Wahai Muhammad... Aku memberi umatmu agar mereka tidak binasa akibat kelaparan yang mewabah serta musuh dari luar, sekalipun musuh-musuh umatmu itu berkumpul dari berbagai penjuru, sehingga sebagian umatmu menghancurkan sebagian yang lain dan sebagian mencaci yang lain” (HR Muslim).
Dalam hadits tadi jelas tergambar, umat Islam hanya akan binasa akibat perpecahan di antara mereka sendiri. Jamaah umat Islam akan lemah dan hancur akibat permusuhan dan saling caci di antara mereka sendiri.
Tidak heran jika hingga kini musuh-musuh Islam terus menjanalkan strategi jitu mereka untuk menguasai umat Islam, yakni pecah-belah dan kuasai (devide et impera). Orientalis kondang Snouck Hurgrounje dalam sebuah memorandumnya mengatakan:
“Tidak ada gunanya kita memerangi kaum Muslimin atau berkonfrontasi untuk menghancurkan Islam dengan senjata. Itu semua bisa kita lakukan dengan mengadu-domba antara mereka dari dalam dengan menanamkan perselisihan agama, pemikiran, dan madzhab...”
Maka, umat Islam mesti waspada. Kedepankan persamaan di antara kita, benamkan sekuat mungkin perbedaan yang tidak prinsipil. Tanamkan selalu prasangka baik dan kasing-sayang terhadap sesama Muslim, agar persatuan umat tetap terpelihara, sehingga tidak ada celah bagi musuh-musuh Allah mengadu-domba dan memprovokasi perselisihan di antara umat Islam sendiri. Jangan terpancing untuk mencela sesama Muslim, karena itu akan menjadi benih perpecahan dan dimanfaatkan musuh-musuh Allah untuk mengadu-domba umat Islam. (Abu Faiz).*warnaislam.com
Okt 31