Tradisi Islam adalah berlomba dalam kebaikan, fastabiqul khairat. Semangat ini kadang melahirkan adanya perbedaan. Hal itu karena mereka didorong untuk berprestasi yang terbaik. Munculnya shalat terawih 20 rakaat yang dipelopori oleh Umar bin Khatab misalnya. Bagi kalangan sahabat itu berbeda tapi tidak menjadi bahan untuk pecah. Karena semangatnya adalah semangat memperbanyak amal, bukan dorongan mencari yang paling benar. Bukan. Mereka lapang terhadap perbedaan.
Rasulullah saw bersabda, “Setiap orang diciptakan menurut bakatnya masing-masing.” Disinilah kita menjadi muslim dengan berukhuwah, menerima keunikan orang lain. Caranya? “Ta’aruf” saling mengenal, “tafahum” saling memahami dan “tafakul” saling memikul beban. Disini kita menjadi muslim dengan bersinergi dengan keunikan kita. Keunikan inilah yang membuat Islam kaya. Ada Abu Bakar yang lembut, Umar yang keras dan tegas, Ustman yang pemalu, Ali yang pemberani. Maka berikan respek pada keunikan orang lain. Ini akan mendewasakan kita.
Hidup itu unik. Lebih asyik, lebih indah dan lebih bahagia bila setiap hari kita terusik untuk menemukan keunikan-keunikan yang ada dalam diri kita maupun orang lain. Positif memandang anugerah. Dewasa melihat realitas. Cerdas menangkap aspirasi. Dunia yang begitu luas janganlah dipersempit dengan cara-cara yang culas.
Manakala nilai hidup ini hanya untuk diri kita, maka akan tampak bagi kita bahwa kehidupan kecil dan singkat. Yang dimulai sejak kita memahami arti hidup dan berakhir hingga batas umur kita. Tetapi apabila kita hidup juga untuk orang lain maka jadilah hidup ini bermakna panjang dan dalam. Bermula dari adanya kemanusiaan itu sendiri dan berlanjut sampai kita meninggalkan dunia ini” (Sayid Quthb)
Jan 09